
Panduan Pengembangan Kurikulum Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) SMP-SMA menjadi salah satu dokumen penting dalam pengembangan model pendidikan menengah yang mengintegrasikan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam satu sistem pendidikan yang berkesinambungan.
Dokumen panduan ini diterbitkan oleh Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026. Panduan disusun untuk membantu satuan pendidikan memahami konsep, desain, implementasi, asesmen, penjaminan mutu, ekosistem pembelajaran, hingga kemitraan dalam penyelenggaraan Sekolah Nasional Terintegrasi.
Panduan tersebut terdiri atas delapan bab utama, mulai dari pendahuluan, pilar Kurikulum SNT, desain kurikulum dan asesmen, implementasi, penjaminan mutu, ekosistem pembelajaran, kemitraan dan kolaborasi pendidikan, hingga penutup.
Apa Itu Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT)?
Sekolah Nasional Terintegrasi atau SNT merupakan model penyelenggaraan pendidikan yang mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu sistem pendidikan yang berkesinambungan.
Integrasi SNT tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan kelembagaan. Di dalamnya terdapat keterpaduan kurikulum, pembelajaran, asesmen, pengembangan talenta, penguatan karakter, dan ekosistem pembelajaran sehingga pengalaman belajar murid dapat berlangsung secara utuh dan saling terhubung.
Konsep tersebut menempatkan kesinambungan perkembangan kompetensi murid sebagai salah satu prinsip penting. Dengan demikian, pembelajaran pada jenjang SMP tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari alur perkembangan menuju jenjang SMA.
SNT juga menghubungkan perspektif nasional, wawasan global, dan konteks lokal. Kurikulum nasional menjadi fondasi untuk memenuhi standar kompetensi, wawasan global memperluas kesiapan murid menghadapi perkembangan dunia, sedangkan konteks lokal menghubungkan pembelajaran dengan potensi daerah, budaya, dan kebutuhan masyarakat.
Latar Belakang Pengembangan Kurikulum SNT
Panduan SNT disusun dalam konteks masih adanya kesenjangan mutu pendidikan antardaerah. Dokumen menjelaskan bahwa capaian literasi dan numerasi pada jenjang SMP dan SMA telah menunjukkan perbaikan, tetapi peningkatan tersebut belum merata di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam panduan disebutkan bahwa kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting pengembangan SNT. Model ini diarahkan untuk mendukung pemerataan mutu pendidikan melalui sistem pendidikan yang terintegrasi, kesinambungan pembelajaran, standar kompetensi yang setara, serta dukungan implementasi yang dapat menyesuaikan konteks daerah.
Konsep SNT juga diarahkan untuk menggabungkan penguatan kompetensi global dengan kearifan lokal. Pengembangan bahasa internasional, STEM, teknologi digital, kewirausahaan, talent pathway, koding dan kecerdasan artifisial, serta pengalaman belajar nyata menjadi bagian dari arah pengembangan SNT.
Tujuan Panduan Pengembangan Kurikulum SNT
Panduan Pengembangan Kurikulum SNT bertujuan memberikan acuan kepada satuan pendidikan dalam menyusun dan mengimplementasikan kurikulum terintegrasi yang relevan, tidak tumpang tindih, kontekstual, serta mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.
Integrasi jenjang SMP dan SMA diharapkan dapat memastikan perkembangan kompetensi murid berlangsung secara sistematis dan berkelanjutan. Panduan juga menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, pengelola sekolah, kepala sekolah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya.
Secara strategis, panduan memiliki dua arah utama. Pertama, menyediakan sistem yang fokus pada lulusan berkualitas dengan kompetensi akademik, keterampilan abad ke-21, karakter, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, berpikir kritis, dan literasi digital. Kedua, menjadikan SNT sebagai pusat keunggulan atau center of excellence yang dapat menjadi rujukan bagi sekolah di sekitarnya.
Siapa Sasaran Panduan Kurikulum SNT?
Panduan SNT ditujukan kepada berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam perencanaan, penyelenggaraan, pelaksanaan, pendampingan, evaluasi, dan pengembangan kurikulum.
Sasaran tersebut meliputi pemerintah daerah, pengelola SNT, kepala sekolah, tim pengembang kurikulum, guru dan tenaga kependidikan, serta mitra pendidikan seperti perguruan tinggi, dunia kerja, organisasi profesi, komunitas belajar, masyarakat, orang tua, dan lembaga terkait lainnya.
Landasan Hukum Kurikulum SNT
Panduan mencantumkan beberapa landasan hukum, antara lain:
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
- Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Program Sekolah Nasional Terintegrasi.
- Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2022.
- Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
- Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum.
- Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 13 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.
Kerangka Kurikulum Sekolah Nasional Terintegrasi
Kurikulum SNT didefinisikan sebagai kurikulum nasional yang berwawasan global, berbasis kekhasan satuan pendidikan, dan berakar pada konteks lokal yang diintegrasikan dalam satu kesatuan pengalaman belajar yang berkelanjutan.
Dalam panduan, kerangka Kurikulum SNT dibangun melalui tiga lapisan utama.
1. Kurikulum Nasional
Kurikulum nasional menjadi acuan pencapaian standar kompetensi dan mutu pendidikan nasional.
2. Kurikulum Kekhasan Satuan Pendidikan
Lapisan ini memperkuat identitas, visi, misi, dan program unggulan sekolah.
3. Kurikulum Berbasis Konteks Lokal
Lapisan ini menghubungkan pembelajaran dengan potensi daerah, budaya, kearifan lokal, dan kebutuhan masyarakat.
Ketiga lapisan tersebut tidak dimaksudkan sebagai tiga kurikulum yang berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya dipadukan dalam satu arsitektur pembelajaran yang saling berhubungan.
Tiga Bentuk Integrasi dalam Kurikulum SNT
Kurikulum SNT menerapkan tiga bentuk integrasi untuk memastikan kesinambungan pengalaman belajar murid.
Integrasi vertikal menghubungkan perkembangan kompetensi murid dari SMP hingga SMA.
Integrasi horizontal menghubungkan berbagai mata pelajaran dan disiplin ilmu sehingga murid mendapatkan pengalaman belajar yang utuh dan kontekstual.
Integrasi ekosistem menghubungkan pembelajaran dengan keluarga, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, dunia industri, serta berbagai mitra pendidikan.
Dengan pola tersebut, kurikulum tidak hanya dipahami sebagai kumpulan mata pelajaran, tetapi sebagai sistem yang menghubungkan berbagai pengalaman belajar untuk membentuk kompetensi, karakter, dan talenta murid.
Tujuh Pilar Kurikulum Sekolah Nasional Terintegrasi
Panduan menetapkan tujuh pilar Kurikulum SNT yang menjadi landasan perancangan, pelaksanaan, evaluasi, dan pengembangan kurikulum.
1. Kurikulum Holistik dan Kontekstual
Kurikulum mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan konteks kehidupan nyata dalam pengalaman belajar yang utuh.
2. Pembelajaran Inovatif dan Berpusat pada Murid
Pembelajaran mendorong keterlibatan aktif murid melalui eksplorasi, kolaborasi, pemecahan masalah, refleksi, dan pembelajaran berbasis proyek.
3. Pengembangan Bakat dan Program Pengayaan
Murid diberikan ruang untuk mengembangkan potensi, minat, dan talenta melalui diferensiasi, program pengayaan, serta talent pathway.
4. Lingkungan Pembelajaran Global dan Multikultural
SNT mendorong wawasan global melalui penguasaan bahasa, sumber belajar internasional, komunikasi lintas budaya, dan kompetensi global dengan tetap mempertahankan identitas nasional.
5. Ekosistem Inovasi Kurikulum
Sekolah membangun budaya belajar yang adaptif, reflektif, kolaboratif, berbasis data, dan mendukung inovasi pembelajaran.
6. Kemitraan Pendidikan
Sekolah membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi, dunia kerja, pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra strategis untuk memperkaya pengalaman belajar.
7. Inklusivitas dan Akses Pendidikan
Kurikulum memberikan kesempatan belajar yang setara dengan memperhatikan keberagaman karakteristik, kebutuhan, latar belakang, dan potensi setiap murid.
Ketujuh pilar tersebut saling memperkuat. Penguatan karakter dan nilai-nilai keimanan ditempatkan sebagai benang merah yang mewarnai pengalaman belajar, pengembangan talenta, asesmen, serta interaksi murid dengan lingkungan pendidikan.
Struktur Kurikulum SNT
Salah satu hal penting dalam panduan adalah penjelasan mengenai struktur kurikulum. Struktur Kurikulum SNT pada dasarnya sama seperti struktur Kurikulum Nasional.
Pengayaan dan kekhasan SNT dialokasikan terutama pada kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan pembelajaran terdiri atas intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan kolateral kurikuler.
Keempat jalur tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi:
- Intrakurikuler menjadi ruang utama pembangunan pengetahuan, konsep, dan praktik disipliner.
- Kokurikuler menjadi ruang integrasi, penerapan, proyek, dan kontribusi.
- Ekstrakurikuler menjadi ruang eksplorasi, pengembangan, aktualisasi, dan kapitalisasi talenta.
- Kolateral kurikuler menjadi ruang internalisasi karakter dan basic life skills melalui budaya sekolah, rumah, dan lingkungan kehidupan murid.
Pembelajaran STEM Terpadu dalam Kurikulum SNT
STEM Terpadu menjadi salah satu bagian penting dalam desain pembelajaran SNT. Pendekatan ini menghubungkan Science, Technology, Engineering, dan Mathematics melalui pengalaman belajar yang terintegrasi.
Panduan menyediakan contoh perkembangan STEM lintas jenjang SMP–SMA, termasuk contoh tema ketahanan pangan lokal, permainan air tradisional dan kebun pangan sekolah, irigasi tetes sederhana, kampanye pangan lokal sehat, hingga kincir air efisien untuk sistem irigasi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa STEM dalam SNT diarahkan bukan hanya pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan menerapkan pengetahuan untuk memahami dan memecahkan permasalahan nyata.
Bahasa Global dan Kompetensi Masa Depan
Kurikulum SNT memberikan perhatian terhadap penguatan bahasa internasional. Panduan menjelaskan penggunaan bahasa Inggris dalam komunikasi harian dan penguatan academic English exposure secara bertahap sesuai kesiapan murid.
Penguatan bahasa tersebut juga dikaitkan dengan kompetensi global. Dalam panduan disebutkan rentang pengembangan bahasa Inggris berdasarkan CEFR A1–B2, disertai kemungkinan pengembangan bahasa asing lainnya.
Selain bahasa, SNT memberikan perhatian pada koding, kecerdasan artifisial, teknologi digital, kewirausahaan, pengembangan talenta, serta berbagai pengalaman belajar yang relevan dengan masa depan.
Asesmen Pembelajaran dalam SNT
Asesmen dalam Kurikulum SNT tidak hanya diposisikan sebagai alat untuk mengukur hasil belajar pada akhir pembelajaran. Panduan menggunakan tiga pendekatan utama, yaitu:
- Assessment as Learning
- Assessment for Learning
- Assessment of Learning
Pelaksanaannya dilakukan pada tiga momen utama, yaitu awal, proses, dan akhir pembelajaran. Dengan demikian, asesmen menjadi bagian integral dari pembelajaran yang digunakan untuk refleksi, perbaikan, dan perkembangan kompetensi murid.
Asesmen juga mencakup perkembangan akademik, kinerja, karakter, proyek, portofolio, serta capaian lain yang relevan.
Program Pengayaan dan Talent Pathway
Program pengayaan dalam SNT bukan sekadar kegiatan tambahan di luar kurikulum. Panduan menempatkannya sebagai bagian integral dari pengalaman belajar untuk mendukung penyelarasan, diferensiasi, pengembangan bakat, pengalaman autentik, dan pembentukan profil lulusan.
Pengembangan talenta dilakukan melalui mekanisme talent pathway, sehingga potensi murid dapat dipetakan, dikembangkan, didampingi, dan direkognisi secara lebih sistematis.
Panduan juga menyebutkan sejumlah program yang dapat menjadi identitas inti SNT, antara lain STEM terpadu, bahasa global bertahap, koding dan kecerdasan artifisial, green school dan climate action, ketahanan pangan/agro-maritim, literasi finansial dan entrepreneurship, serta SEL-karakter-life design.
Community Service sebagai Pembelajaran Transisi
Salah satu kekhasan implementasi Kurikulum SNT adalah Community Service sebagai bagian dari pembelajaran transisi.
Program tersebut memberikan kesempatan kepada murid untuk menghubungkan pengalaman belajar dengan lingkungan dan masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari desain lintas jenjang dan memiliki bukti serta instrumen penilaian tersendiri dalam panduan.
Dengan demikian, pengalaman belajar murid tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi dapat berkembang menjadi kontribusi nyata terhadap lingkungan sekitar.
Dokumen Rekognisi Capaian Murid (DRCM)
SNT juga memperkenalkan Dokumen Rekognisi Capaian Murid (DRCM) sebagai bagian dari sistem rekognisi capaian.
DRCM digunakan untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai perkembangan dan capaian murid, termasuk capaian akademik maupun nonakademik, karya, pengalaman belajar, dan portofolio.
DRCM dapat mendukung transisi antarkejang, pengembangan portofolio, pemetaan talenta, pengajuan beasiswa, program pengayaan, magang, maupun studi lanjut. Namun, DRCM tidak menggantikan rapor atau ijazah dan bukan tempat penyimpanan seluruh bukti aktivitas murid.
Langkah Penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan SNT
Dalam penyusunan KSP SNT, Kurikulum Nasional menjadi jangkar utama yang menentukan standar, Capaian Pembelajaran, struktur kurikulum, beban belajar, profil lulusan, dan ketentuan asesmen.
Kurikulum nasional tersebut kemudian diperkaya melalui pengayaan global yang relevan dan dikontekstualisasikan dengan karakteristik murid, satuan pendidikan, budaya, potensi, serta kebutuhan daerah.
Secara ringkas, sistematika KSP SNT mencakup lima bagian utama:
Pertama, karakteristik satuan pendidikan. Bagian ini memuat data murid, sumber daya manusia, fasilitas, mutu, kebutuhan global, dan konteks lokal.
Kedua, visi, misi, dan tujuan. Bagian ini menetapkan arah lulusan serta tonggak perkembangan SMP–SMA.
Ketiga, pengorganisasian. Bagian ini mengatur struktur, pengayaan global, konteks lokal, progression, empat jalur pembelajaran, integrasi, proyek, dan bukti capaian.
Keempat, perencanaan. Bagian ini mencakup ATP, unit pembelajaran, proyek, asesmen, dukungan, dan portofolio.
Kelima, evaluasi dan pengembangan. Bagian ini mencakup mutu, dampak, kesiapan pendidik, dashboard, supervisi, pengembangan profesional, dan revisi KSP.
Penjaminan Mutu Kurikulum SNT
Penjaminan mutu merupakan bagian penting dalam implementasi SNT. Panduan mengarahkan sekolah untuk menjalankan sistem penjaminan mutu secara mandiri, partisipatif, terstandar, berintegritas, sistematis, berkesinambungan, holistik, transparan, dan akuntabel.
Penjaminan mutu memperhatikan lima level indikator, yaitu:
Input, meliputi kualitas guru, fasilitas, dokumen kurikulum, sumber belajar, dan kesiapan kemitraan.
Proses, meliputi pembelajaran, asesmen, pengayaan, iklim belajar, inklusivitas, teknologi, kesinambungan antarkejang, dan kemitraan.
Output, meliputi hasil belajar, karya murid, sertifikasi, portofolio, DRCM, serta program pengayaan.
Outcome, antara lain peningkatan kompetensi, perkembangan bahasa, kemampuan berpikir, kesiapan studi lanjut atau dunia kerja, wellbeing, dan keterlibatan murid.
Impact, antara lain kontribusi lulusan kepada masyarakat, peran sekolah sebagai pusat rujukan, penyebaran praktik baik, serta penguatan ekosistem pendidikan.
Sekolah juga diarahkan membangun dashboard monitoring berkesinambungan yang dapat mengintegrasikan data perkembangan hasil belajar, profil lulusan, pengayaan, bahasa internasional, proyek, portofolio, wellbeing, kehadiran, mutu pembelajaran, profesionalisme guru, kemitraan, serta kesinambungan perkembangan murid.
Ekosistem Pembelajaran SNT
Implementasi SNT membutuhkan ekosistem pembelajaran yang mendukung. Panduan menjelaskan empat komponen utama ekosistem pembelajaran SNT, yaitu:
- Curriculum Development Center (Pusat Pengembangan Kurikulum);
- Pusat Sumber Belajar/Teaching and Learning Center;
- Pengembangan Kompetensi Guru;
- Fasilitas dan Sarana Pembelajaran.
Keempat komponen tersebut dirancang untuk mendukung terselenggaranya pembelajaran yang berkualitas, terstandar, relevan, berkelanjutan, dan bermakna.
Kemitraan dan Kolaborasi Pendidikan
SNT juga menempatkan kemitraan sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan. Kemitraan dapat dilakukan dengan pemerintah, perguruan tinggi, sekolah lain melalui sister school, dunia kerja, masyarakat, serta berbagai komunitas dan mitra pendidikan.
Kemitraan dengan pemerintah, misalnya, diarahkan untuk memastikan tata kelola operasional yang jelas, konsisten, terukur, dan akuntabel dalam mendukung program SNT.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan dunia kerja dapat memperkaya pengalaman belajar murid melalui kegiatan seperti kelas inspiratif, penelitian, magang, pendampingan, pengembangan karier, maupun proyek kolaboratif.
Kesimpulan
Panduan Pengembangan Kurikulum Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) SMP-SMA Tahun 2026 memberikan kerangka yang cukup komprehensif mengenai bagaimana pendidikan menengah dapat dikembangkan sebagai satu sistem yang menghubungkan SMP dan SMA.
Kurikulum SNT menempatkan Kurikulum Nasional sebagai fondasi, kemudian memperkuatnya melalui kekhasan satuan pendidikan, pengayaan global, dan konteks lokal. Implementasinya didukung oleh integrasi vertikal, horizontal, dan ekosistem, serta empat jalur kegiatan pembelajaran: intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan kolateral kurikuler.
Di dalamnya terdapat penguatan STEM Terpadu, bahasa global, koding dan kecerdasan artifisial, pengembangan talenta, program pengayaan, Community Service, asesmen berkelanjutan, portofolio, DRCM, serta sistem penjaminan mutu berbasis data.
Dengan kerangka tersebut, SNT diarahkan untuk membangun pengalaman belajar yang terintegrasi, berkelanjutan, kontekstual, inklusif, inovatif, dan berorientasi masa depan, dengan tetap berakar pada nilai-nilai nasional dan potensi lokal.
FAQ Panduan Kurikulum Sekolah Nasional Terintegrasi
Apa yang dimaksud dengan Sekolah Nasional Terintegrasi?
Sekolah Nasional Terintegrasi atau SNT merupakan model pendidikan yang mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu sistem pendidikan yang berkesinambungan, termasuk kurikulum, pembelajaran, asesmen, pengembangan talenta, karakter, dan ekosistem pembelajaran.
Apakah Kurikulum SNT menggantikan Kurikulum Nasional?
Tidak. Panduan menempatkan Kurikulum Nasional sebagai kurikulum utama dan jangkar akademik. SNT memberikan pengayaan melalui kekhasan satuan pendidikan, wawasan global, serta konteks lokal.
Apakah struktur Kurikulum SNT berbeda dari Kurikulum Nasional?
Menurut panduan, struktur kurikulum SNT sama dengan struktur Kurikulum Nasional. Kekhasan dan pengayaan SNT terutama dialokasikan melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, dengan dukungan kegiatan intrakurikuler dan kolateral kurikuler.
Apa saja tujuh pilar Kurikulum SNT?
Tujuh pilar tersebut adalah Kurikulum Holistik dan Kontekstual; Pembelajaran Inovatif dan Berpusat pada Murid; Pengembangan Bakat dan Program Pengayaan; Lingkungan Pembelajaran Global dan Multikultural; Ekosistem Inovasi Kurikulum; Kemitraan Pendidikan; serta Inklusivitas dan Akses Pendidikan.
Apa peran STEM dalam Kurikulum SNT?
STEM Terpadu menjadi salah satu pendekatan penting untuk menghubungkan sains, teknologi, engineering, dan matematika dalam pengalaman belajar yang terintegrasi serta berkaitan dengan masalah nyata.
Apa itu DRCM?
DRCM adalah Dokumen Rekognisi Capaian Murid yang mendokumentasikan capaian terpilih murid, termasuk capaian akademik dan nonakademik, karya, pengalaman belajar, dan portofolio. DRCM tidak menggantikan rapor atau ijazah.
Bagaimana asesmen dilakukan dalam SNT?
Asesmen menggunakan pendekatan assessment as learning, assessment for learning, dan assessment of learning. Asesmen dilakukan pada awal, proses, dan akhir pembelajaran untuk mendukung perkembangan kompetensi murid secara berkelanjutan.
Apa saja komponen utama penyusunan KSP SNT?
Sistematika KSP SNT mencakup karakteristik satuan pendidikan, visi-misi-tujuan, pengorganisasian, perencanaan, serta evaluasi dan pengembangan.
Apakah SNT hanya berorientasi pada prestasi akademik?
Tidak. Kerangka SNT juga mencakup karakter, talenta, kompetensi kehidupan, pengalaman nyata, kolaborasi, pengembangan bahasa, pengayaan, portofolio, serta kontribusi kepada masyarakat.
Di mana panduan SNT dapat digunakan?
Panduan ini ditujukan bagi pemangku kepentingan yang terlibat dalam perencanaan, penyelenggaraan, pelaksanaan, pendampingan, evaluasi, dan pengembangan kurikulum SNT, termasuk pemerintah daerah, pengelola sekolah, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan mitra pendidikan.
Apa saja isi utama Panduan Pengembangan Kurikulum SNT?
Panduan mencakup pendahuluan, pilar Kurikulum SNT, desain kurikulum dan asesmen, implementasi kurikulum, penjaminan mutu, ekosistem pembelajaran, kemitraan dan kolaborasi pendidikan, serta lampiran pendukung implementasi.
Dokumen apa yang dihasilkan dalam penyusunan KSP SNT?
Keluaran minimal yang disebutkan dalam panduan antara lain peta perencanaan tingkat satuan pendidikan, contoh ATP, unit interdisipliner, proyek transdisipliner dan STEM/STEAMS, instrumen asesmen, rubrik perkembangan, peta portofolio, serta SOP kurasi DRCM.
Catatan: Artikel ini merupakan ringkasan dan pengolahan isi dari Panduan Pengembangan Kurikulum Sekolah Nasional Terintegrasi SMP-SMA Tahun 2026. Untuk memahami ketentuan, contoh, matriks, instrumen, dan lampiran secara lengkap, pembaca tetap perlu merujuk pada dokumen panduan secara utuh.
