
Panduan Implementasi Layanan Bimbingan dan Konseling menjadi salah satu acuan penting bagi satuan pendidikan dalam menyelenggarakan layanan BK secara terencana, sistematis, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Panduan ini memberikan arah bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK), konselor, guru wali, wali kelas, kepala satuan pendidikan, pengawas, serta pihak terkait lainnya dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengembangkan program layanan BK sesuai kebutuhan murid.
Dalam panduan tersebut ditegaskan bahwa layanan BK bukan sekadar layanan bagi murid yang sedang menghadapi masalah. Layanan BK merupakan bagian integral dari proses pendidikan yang membantu murid berkembang secara optimal dalam aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier.
Panduan Implementasi Layanan Bimbingan dan Konseling Tahun 2026 juga menempatkan layanan BK sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan mendukung kesejahteraan murid.
Apa Itu Layanan Bimbingan dan Konseling?
Layanan Bimbingan dan Konseling atau BK merupakan proses sistematis untuk mendukung perkembangan murid secara utuh. Layanan ini tidak berdiri sebagai fungsi tambahan, tetapi terintegrasi dalam keseluruhan proses pendidikan.
Panduan 2026 menjelaskan bahwa layanan BK diarahkan untuk membantu murid memahami diri dan lingkungannya, mengembangkan potensi, mengelola emosi, membangun regulasi diri, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Dalam pelaksanaannya, layanan BK juga mengintegrasikan pendekatan Pembelajaran Mendalam, khususnya melalui bimbingan klasikal dan bimbingan kelompok. Kegiatan layanan diarahkan agar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan sehingga murid dapat menghubungkan materi dengan pengalaman nyata dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Panduan Implementasi Layanan BK
Panduan ini disusun sebagai pedoman bagi satuan pendidikan agar layanan Bimbingan dan Konseling dapat dilaksanakan secara:
- terencana;
- sistematis;
- berkelanjutan;
- sesuai kebutuhan perkembangan murid;
- selaras dengan kebijakan pendidikan;
- mendukung lingkungan belajar yang aman dan nyaman; serta
- berpihak pada perkembangan murid.
Panduan tersebut juga menekankan pentingnya kerja sama antara guru BK, guru wali, wali kelas, guru mata pelajaran, kepala sekolah, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya.
Landasan Implementasi Layanan BK
Panduan Implementasi Layanan Bimbingan dan Konseling Tahun 2026 mencantumkan sejumlah regulasi sebagai acuan, antara lain:
- Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah.
- Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian.
- Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan.
- Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses.
- Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Regulasi tersebut menjadi bagian dari landasan penyelenggaraan layanan BK di satuan pendidikan.
Ruang Lingkup Panduan Implementasi Layanan BK
Ruang lingkup Panduan Implementasi Layanan BK mencakup lima bagian utama, yaitu:
- Empat bidang layanan BK, yaitu pribadi, sosial, belajar, dan karier.
- Empat komponen layanan, yaitu Layanan Dasar, Layanan Responsif, Perencanaan Individual, dan Dukungan Sistem.
- Perencanaan program, termasuk penyusunan Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL).
- Strategi layanan BK.
- Evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut program BK.
RPL dalam panduan memuat tujuan layanan yang merujuk pada SKKPD, materi atau topik, metode atau teknik, media, langkah kegiatan, dan rencana penilaian.
Empat Komponen Layanan BK
1. Layanan Dasar
Layanan Dasar merupakan layanan yang bersifat proaktif, preventif, universal, terencana, dan terstruktur. Layanan ini diberikan kepada seluruh murid tanpa terkecuali.
Tujuannya adalah membantu murid mencapai perkembangan optimal sesuai tugas perkembangan pada setiap tahapan usia.
Bentuk Layanan Dasar antara lain:
- bimbingan klasikal;
- bimbingan kelompok;
- orientasi;
- penyebaran informasi;
- pengembangan media BK;
- papan bimbingan;
- leaflet;
- poster; dan
- media digital.
Layanan Dasar dilaksanakan secara terjadwal dan terprogram sepanjang tahun ajaran.
2. Layanan Responsif
Layanan Responsif merupakan layanan yang diberikan sebagai respons terhadap kebutuhan atau permasalahan murid yang memerlukan penanganan segera.
Bentuknya antara lain:
- konseling individual;
- konseling kelompok;
- konsultasi dengan guru atau orang tua;
- konferensi kasus;
- alih tangan kasus atau referral; dan
- kunjungan rumah.
Berbeda dengan Layanan Dasar yang bersifat preventif, Layanan Responsif lebih menekankan intervensi terhadap kebutuhan atau masalah yang sudah muncul.
Panduan juga memberikan batas kewenangan yang penting. Permasalahan klinis berat berada di luar cakupan layanan BK sekolah dan harus melalui mekanisme alih tangan kasus kepada psikolog klinis, psikiater, atau lembaga medis yang berwenang.
Guru BK juga bukan pihak yang menjalankan hukuman atau sanksi tata tertib sekolah. Fungsi tersebut berada pada Tim Disiplin/Kesiswaan.
3. Perencanaan Individual
Perencanaan Individual membantu murid memahami dirinya, mengenali kekuatan, kelemahan, minat, bakat, serta nilai yang dimiliki untuk kemudian menyusun rencana masa depan.
Pada jenjang yang berbeda, fokusnya dapat disesuaikan.
Di SD, misalnya, perencanaan individual dapat membantu murid mempersiapkan transisi ke SMP. Pada SMP, layanan dapat membantu murid mengenali minat dan bakat sebagai pertimbangan pendidikan lanjutan. Sedangkan pada SMA/SMK, layanan dapat diarahkan pada pemilihan mata pelajaran pilihan, studi lanjut, dan perencanaan karier.
Bentuk kegiatannya dapat berupa penilaian individual, inventori minat-bakat, portofolio perkembangan, konseling karier, penempatan, penyaluran, dan penyusunan rencana studi lanjut.
4. Dukungan Sistem
Dukungan Sistem merupakan komponen manajerial yang menopang keseluruhan layanan BK.
Kegiatan Dukungan Sistem antara lain:
- pengembangan kompetensi profesional guru BK;
- pelatihan dan seminar;
- kolaborasi dengan guru;
- kerja sama dengan orang tua;
- pengelolaan administrasi BK;
- penelitian dan evaluasi program;
- pengembangan jejaring eksternal; serta
- pelaporan dan akuntabilitas layanan.
Dukungan Sistem berlangsung sepanjang tahun ajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi, hingga pelaporan.
Empat Bidang Layanan Bimbingan dan Konseling
Seluruh komponen layanan BK dilaksanakan dalam empat bidang yang saling berkaitan.
1. Bidang Pribadi
Membantu murid memahami dirinya, mengenali potensi, mengelola emosi, membangun karakter, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
2. Bidang Sosial
Membantu murid membangun hubungan sehat dengan teman sebaya, keluarga, guru, dan lingkungan sekolah.
3. Bidang Belajar
Membantu murid mengembangkan kebiasaan, strategi, motivasi, dan keterampilan belajar yang sesuai dengan potensinya.
4. Bidang Karier
Membantu murid mengenali minat dan bakat, memahami dunia kerja, serta merencanakan pendidikan dan karier secara realistis.
Keempat bidang tersebut dapat muncul secara bersamaan dalam satu layanan sesuai kebutuhan murid.
Strategi Layanan BK di Sekolah
Panduan Implementasi Layanan BK menjelaskan berbagai strategi yang dapat digunakan sesuai tujuan dan karakteristik murid.
Bimbingan Klasikal
Bimbingan klasikal dilaksanakan secara langsung di kelas dan menjangkau seluruh murid dalam satu rombongan belajar.
Metodenya tidak harus berupa ceramah. Guru BK dapat menggunakan:
- diskusi;
- role play;
- studi kasus;
- video edukatif;
- brainstorming;
- refleksi; dan
- metode interaktif lainnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan Pembelajaran Mendalam karena murid tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak memahami, merefleksikan, dan menerapkan materi dalam kehidupan sehari-hari.
Bimbingan Kelas Besar atau Lintas Kelas
Strategi ini menjangkau lebih dari satu rombongan belajar. Materi yang disampaikan biasanya bersifat umum dan relevan bagi banyak murid.
Contohnya adalah seminar karier untuk murid kelas XI dan XII dengan menghadirkan narasumber dari perguruan tinggi atau dunia industri.
Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok dilaksanakan dalam kelompok kecil. Panduan memberikan contoh kelompok beranggotakan sekitar 5–10 murid untuk membahas topik tertentu melalui dinamika kelompok yang terstruktur.
Strategi ini memungkinkan murid belajar melalui interaksi, berbagi pengalaman, dan mengembangkan keterampilan sosial.
Tahapan Perencanaan Program BK
Perencanaan merupakan bagian penting dalam implementasi program layanan BK. Program BK dirancang berdasarkan pemahaman terhadap murid dan kebutuhan nyata di satuan pendidikan.
Panduan menghubungkan Tugas Perkembangan (TP), Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD), dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). SKKPD menjadi landasan proses perkembangan, sedangkan Dimensi Profil Lulusan menjadi target capaian akhir.
Secara umum, tahapan perencanaan meliputi:
1. Menganalisis SKKPD
Guru BK menganalisis tugas perkembangan dan SKKPD yang perlu dicapai murid serta menghubungkannya dengan Dimensi Profil Lulusan.
2. Melakukan Asesmen Kebutuhan
Asesmen digunakan untuk menemukan kesenjangan antara kondisi ideal dengan kondisi nyata murid.
Data dapat diperoleh melalui instrumen asesmen, observasi, wawancara, dokumentasi, serta sumber data lain yang relevan.
Hasil asesmen kemudian diinterpretasikan untuk menghasilkan:
- profil kelas atau kelompok;
- profil individu;
- karakteristik sekolah dan lingkungan; serta
- kesimpulan kebutuhan utama murid.
Panduan memberikan contoh bahwa hasil asesmen dapat menunjukkan kebutuhan pada bidang pribadi, sosial, belajar, dan karier yang kemudian menjadi dasar penyusunan program.
3. Menyusun Deskripsi Kebutuhan
Deskripsi kebutuhan merupakan hasil analisis kebutuhan nyata murid berdasarkan prioritas.
Contohnya, apabila hasil asesmen menunjukkan murid kesulitan mengatur waktu belajar, maka kebutuhan dapat dirumuskan menjadi kemampuan membuat jadwal belajar dan memperbaiki kebiasaan belajar.
4. Merumuskan Tujuan
Tujuan program dirumuskan dalam bentuk perilaku atau kompetensi yang diharapkan dikuasai murid setelah memperoleh layanan BK.
5. Menyusun Rencana Kegiatan atau Action Plan
Action plan menjadi dokumen yang merinci bagaimana tujuan program BK dilaksanakan secara teknis dalam periode tertentu.
6. Mengembangkan Tema atau Topik
Tema atau topik merupakan materi spesifik yang akan disampaikan dalam layanan BK.
7. Mengembangkan RPL
RPL merupakan skenario detail untuk setiap pertemuan layanan.
RPL menjadi salah satu perangkat penting agar pelaksanaan layanan memiliki tujuan, materi, metode, media, langkah kegiatan, dan evaluasi yang jelas.
Pelaksanaan Program Layanan BK
Pelaksanaan program BK merupakan penerapan dari perencanaan yang telah disusun.
Guru BK perlu memperhatikan beberapa unsur, antara lain:
- materi;
- media;
- waktu;
- tempat;
- strategi;
- teknik layanan;
- instrumen evaluasi;
- karakteristik murid; dan
- kebutuhan murid.
Pemilihan metode dan media perlu disesuaikan dengan tujuan layanan, karakteristik materi, jenis layanan, serta kondisi murid. Media digital juga dapat dimanfaatkan untuk membuat layanan lebih menarik, kontekstual, dan mudah diakses.
Pentingnya Pengelolaan Data
Data menjadi dasar dalam mengidentifikasi kebutuhan, karakteristik, potensi, dan perkembangan murid.
Pengumpulan data dilakukan secara berkelanjutan untuk mengetahui keterlaksanaan program, perubahan perkembangan murid, ketercapaian tujuan layanan, serta kebutuhan tindak lanjut.
Panduan juga menjelaskan pentingnya Informed Consent sebelum proses pengumpulan data maupun layanan konseling dilakukan. Murid perlu mendapatkan penjelasan mengenai tujuan, prosedur, manfaat, hak dan kewajiban, kerahasiaan, serta batasan layanan.
Pengelolaan Waktu Layanan BK
Pengelolaan waktu perlu disesuaikan dengan kalender akademik sekolah, jenjang pendidikan, kebutuhan murid, jumlah guru BK, serta jumlah murid yang dilayani.
Panduan menyebutkan bahwa berdasarkan Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014, sekitar 80–85% waktu guru BK digunakan untuk layanan langsung kepada murid, sedangkan sekitar 15–20% digunakan untuk kegiatan manajemen dan administrasi program.
Evaluasi Layanan Bimbingan dan Konseling
Evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program BK. Evaluasi digunakan untuk mengetahui keterlaksanaan program, efektivitas layanan, serta dampaknya terhadap perkembangan murid.
Evaluasi dapat dilakukan menggunakan:
- observasi;
- angket;
- wawancara;
- refleksi diri;
- checklist;
- skala penilaian;
- jurnal perkembangan;
- studi dokumentasi; dan
- instrumen lain yang sesuai.
Evaluasi tidak hanya melihat penguasaan pengetahuan, tetapi juga perubahan positif pada pemahaman diri, sikap, perilaku, keterampilan sosial, kemandirian belajar, kemampuan mengambil keputusan, dan kesiapan karier.
Evaluasi Program dengan Model CIPP
Salah satu model evaluasi yang dijelaskan dalam panduan adalah CIPP, yaitu:
1. Context (Konteks)
Mengidentifikasi kebutuhan, masalah, peluang, dan kondisi lingkungan sebagai dasar program.
2. Input (Masukan)
Menilai kesiapan sumber daya, kompetensi pelaksana, metode, materi, media, sarana prasarana, pendanaan, dan prosedur kerja.
3. Process (Proses)
Memantau pelaksanaan program, kesesuaian jadwal, kinerja guru BK, aktivitas murid, metode, media, dan hambatan.
4. Product (Produk)
Menilai hasil yang dicapai, ketercapaian tujuan, pemenuhan kebutuhan murid, perubahan perkembangan murid, serta efektivitas program sebagai dasar program berikutnya.
Panduan juga memuat model evaluasi lainnya, seperti MEASURE, 4 Level Kirkpatrick, Discrepancy, Countenance, Wheels, dan CIRO.
Pelaporan Program BK
Pelaporan merupakan kegiatan penyampaian hasil pelaksanaan layanan BK.
Secara umum, laporan mencakup tiga aspek:
1. Laporan Proses
Memuat informasi mengenai:
- jenis layanan;
- waktu dan tempat;
- sasaran layanan;
- metode atau teknik;
- media dan sarana;
- kehadiran dan partisipasi murid; serta
- hambatan pelaksanaan.
2. Laporan Hasil
Memuat perkembangan atau perubahan setelah murid mengikuti layanan, seperti:
- perubahan perilaku;
- peningkatan pemahaman diri;
- perkembangan sikap sosial;
- kemajuan belajar;
- peningkatan disiplin dan tanggung jawab;
- perkembangan minat, bakat, dan karier; serta
- ketercapaian tujuan layanan.
3. Laporan Tindak Lanjut
Memuat kegiatan yang perlu dilakukan setelah evaluasi, seperti:
- konseling lanjutan;
- bimbingan khusus;
- kunjungan rumah;
- konsultasi dengan orang tua;
- rujukan kepada ahli;
- koordinasi dengan wali kelas atau guru mata pelajaran; dan
- program penguatan karakter atau pendampingan belajar.
Tindak Lanjut Program BK
Tindak lanjut merupakan tahapan setelah evaluasi.
Hasil evaluasi digunakan untuk mengetahui program yang sudah dan belum terlaksana serta tujuan yang sudah dan belum tercapai.
Tindak lanjut dapat berupa:
- pemberian penguatan atau tugas tertentu kepada murid;
- penempatan murid dalam layanan bimbingan atau konseling tertentu;
- penyusunan program layanan baru sebagai kelanjutan atau pelengkap layanan sebelumnya;
- asesmen lanjutan;
- koordinasi dengan pihak terkait; dan
- referral apabila diperlukan.
Dengan demikian, program BK tidak berhenti setelah layanan selesai. Data dan hasil evaluasi menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya.
Panduan juga menekankan bahwa hasil evaluasi dapat digunakan untuk melakukan perbaikan berkelanjutan terhadap program BK.
Peran Guru BK, Guru Wali dan Wali Kelas
Implementasi program BK membutuhkan kolaborasi. Guru BK tidak selalu menjadi satu-satunya pihak yang melakukan seluruh pendampingan murid.
Di SD/MI/SDLB, apabila belum tersedia guru BK atau konselor, layanan BK dapat menjadi tanggung jawab guru kelas sesuai tugas dan kewenangannya. Guru kelas dapat membantu mengenali karakteristik, potensi, kebutuhan, dan permasalahan murid serta melakukan rujukan jika diperlukan.
Pada jenjang SMP/MTs hingga SMA/MA/SMK/MAK, pelaksana utama layanan BK adalah guru BK atau konselor. Pelaksanaan layanan dapat dilakukan melalui kerja sama dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran, orang tua, komite, pengawas, dan pihak profesional lainnya.
Dalam kondisi keterbatasan sumber daya, guru BK dapat berperan sebagai perancang sistem dan koordinator, sedangkan layanan dasar dan pemantauan murid dapat diperkuat melalui kolaborasi dengan guru wali dan wali kelas.
7 Jurus BK Hebat dalam Implementasi Layanan BK
Panduan juga memperkenalkan 7 Jurus BK Hebat sebagai strategi penguatan praktik pendampingan murid.
Tujuh jurus tersebut adalah:
- Kenali Potensi
- Kelola Emosi
- Tumbuhkan Resiliensi
- Jaga Konsistensi
- Jalin Koneksi
- Bangun Kolaborasi
- Menata Situasi
Lima jurus pertama berkaitan dengan kompetensi pendidik dalam memahami murid, mencegah masalah, serta mendampingi perkembangan murid. Dua jurus terakhir menjadi bagian penting dari dukungan sistem melalui kolaborasi dan penataan lingkungan.
Panduan menempatkan 7 Jurus BK Hebat sebagai bagian yang dapat diintegrasikan dengan komponen Layanan Dasar, Layanan Responsif, Perencanaan Individual, dan Dukungan Sistem.
Batasan dalam Implementasi Layanan BK
Hal penting yang perlu dipahami sekolah adalah bahwa layanan BK memiliki batas kewenangan.
Panduan menegaskan bahwa BK sekolah berfokus pada bimbingan perkembangan dan konseling edukatif. Kasus yang masuk dalam ranah klinis berat harus melalui mekanisme referral kepada profesional atau lembaga yang berwenang.
Selain itu, guru BK tidak berfungsi sebagai pelaksana hukuman atau sanksi tata tertib sekolah. Pemisahan fungsi tersebut diperlukan untuk menjaga BK sebagai ruang aman bagi murid.
Kesimpulan
Panduan Implementasi Layanan BK Tahun 2026 memberikan kerangka yang cukup lengkap bagi sekolah dalam menyelenggarakan program Bimbingan dan Konseling secara sistematis.
Implementasi program tidak cukup hanya dengan membuat jadwal konseling. Program BK perlu dimulai dari pemahaman karakteristik murid, analisis SKKPD, asesmen kebutuhan, perumusan kebutuhan, penyusunan program, pengembangan tema dan RPL, pelaksanaan layanan, evaluasi, pelaporan, serta tindak lanjut.
Empat komponen utama yang perlu diperhatikan adalah Layanan Dasar, Layanan Responsif, Perencanaan Individual, dan Dukungan Sistem. Keempatnya dilaksanakan dalam bidang pribadi, sosial, belajar, dan karier.
Melalui perencanaan berbasis data dan kolaborasi antara guru BK, guru wali, wali kelas, guru mata pelajaran, kepala sekolah, orang tua, serta pihak terkait, layanan BK diharapkan dapat mendukung perkembangan murid secara lebih utuh.
Dengan demikian, layanan BK bukan sekadar tempat menangani murid yang mengalami masalah, tetapi menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan yang membantu murid mengenali potensi, membangun kemandirian, mengembangkan keterampilan sosial, meningkatkan kesiapan belajar, dan merencanakan masa depan.
FAQ Panduan Implementasi Layanan BK
1. Apa yang dimaksud dengan Panduan Implementasi Layanan BK?
Panduan Implementasi Layanan BK adalah acuan bagi satuan pendidikan dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, melaporkan, dan mengembangkan layanan Bimbingan dan Konseling secara sistematis dan berkelanjutan.
2. Siapa pengguna Panduan Implementasi Layanan BK?
Penggunanya meliputi guru BK atau konselor, kepala satuan pendidikan, wakil kepala satuan pendidikan, guru mata pelajaran, wali kelas, guru wali, pengawas, tenaga kependidikan, orang tua, komite, dan pemangku kepentingan terkait.
3. Apa saja komponen layanan BK?
Ada empat komponen utama, yaitu Layanan Dasar, Layanan Responsif, Perencanaan Individual, dan Dukungan Sistem.
4. Apa saja bidang layanan BK?
Bidang layanan BK terdiri atas pribadi, sosial, belajar, dan karier.
5. Apa fungsi asesmen kebutuhan dalam program BK?
Asesmen kebutuhan digunakan untuk mengetahui kondisi nyata, karakteristik, kebutuhan, potensi, dan permasalahan murid sehingga program BK dapat disusun berdasarkan data dan kebutuhan nyata.
6. Apa itu RPL dalam layanan BK?
RPL adalah Rencana Pelaksanaan Layanan, yaitu skenario detail pelaksanaan suatu layanan BK. RPL memuat antara lain tujuan, materi atau topik, metode atau teknik, media, langkah kegiatan, dan rencana penilaian.
7. Apakah guru BK menangani semua masalah murid?
Tidak. Guru BK memiliki batas kewenangan. Kasus yang masuk dalam ranah klinis berat perlu dialihkan kepada psikolog klinis, psikiater, atau lembaga medis yang berwenang.
8. Apakah guru BK bertugas memberikan hukuman kepada murid?
Panduan menegaskan bahwa pemberian sanksi, eksekusi hukuman, dan penegakan tata tertib merupakan kewenangan Tim Disiplin/Kesiswaan, bukan fungsi utama guru BK.
9. Bagaimana evaluasi program BK dilakukan?
Evaluasi dapat dilakukan melalui observasi, angket, wawancara, refleksi, checklist, jurnal perkembangan, studi dokumentasi, dan instrumen lain yang sesuai. Salah satu model yang dijelaskan dalam panduan adalah CIPP: Context, Input, Process, Product.
10. Apa yang dilakukan setelah program BK dievaluasi?
Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar tindak lanjut, seperti memberikan layanan lanjutan, melakukan asesmen tambahan, memperbaiki program, melakukan koordinasi dengan pihak terkait, atau melakukan referral apabila diperlukan.
11. Mengapa kolaborasi penting dalam layanan BK?
Karena perkembangan murid berlangsung dalam berbagai lingkungan. Guru BK perlu berkolaborasi dengan guru wali, wali kelas, guru mata pelajaran, kepala sekolah, orang tua, dan pihak terkait agar pendampingan murid berlangsung secara terpadu.
12. Di mana mendapatkan Panduan Implementasi Layanan BK Tahun 2026?
Dokumen yang menjadi dasar artikel ini adalah Panduan Implementasi Layanan Bimbingan dan Konseling Tahun 2026 yang diterbitkan oleh Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dokumen tersebut memuat pembahasan mulai dari pendahuluan, layanan BK, program BK, evaluasi, pelaporan, tindak lanjut, hingga berbagai lampiran instrumen dan contoh program.
